Tiga Kamera Smartphone Terbaik Versi DxOMark

kamera

Penyematan istilah kamera smartphone terbaik tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Terdapat berbagai macam kriteria yang harus ditilik untuk menentukan kualitas kamera smartphone. Misalnya saja, besaran sensor kamera yang memang sering digunakan sebagai acuan untuk menilai keunggulan kamera smartphone tertentu. Salah satu pihak yang bisa dipercaya untuk melakukan penilaian semacam ini adalah the professional camera evaluation website DxOMark Mobile.

Nah, berikut ini akan ditampilkan tiga smartphone kamera dengan kualitas terbaik menurut the professional camera evaluation website DxOMark Mobile.

1. Samsung Galaxy S5
Penempatan Samsung Galaxy S5 pada urutan ke-3 tentu memiliki alasan yang kuat. Kamera ponsel ini memiliki kecepatan auto focus 0,3 detik dengan suguhan kecanggihan High Dynamic Range yang dapat menghasilkan gambar tajam pada berbagai kondisi. Belum lagi, smartphone ini juga dibekali dengan fitur Selective Focus sehingga kita dapat membidik gambar dengan fokus area tertentu serta blur pada bagian lain.
2. Apple iPhone 6
Kamera smartphone terbaik berikutnya adalah kamera smartphone Apple iPhone 6. Smartphone ini memiliki fitur canggih berupa sensor Focus Pixels yang dapat melakukan deteksi wajah dan kontrol exposure. Selain itu, kamera ponsel pintar ini juga bisa diandalkan untuk mengabadikan momen dalam file berbentuk video berkualitas tinggi. Kualitas menawan video yang dihasilkan tersebut tidak lain dikarenakan adanya teknologi digital image stabilization yang dapat menstabilkan rekaman video bahkan ketika perekaman dilakukan sambil berjalan.
3. Apple iPhone 6 Plus
Kamera smartphone paling canggih versi DxOMark Mobile jatuh pada kamera iPhone 6 Plus. Sebenernya, berbagai fitur kamera ponsel ini hampir sama dengan iPhone 6. Namun, iPhone 6 Plus menawarkan tingkat kestabilan gambar yang lebih tinggi dengan teknologi Optical Image Stabilization yang jauh lebih mumpuni. Hasil rekaman Anda pun akan terlihat begitu mulus tanpa terpengaruh oleh efek guncangan yang seringkali menjadi masalah di berbagai smartphone lain.

Demikian daftar tiga kamera smartphone terbaik versi DxOMark Mobile. Bagi Anda yang gemar memotret, tak ada salahnya memilih satu di antara ketiga smartphone tersebut.

Ketika Nyawa Manusia Menjadi Bahan Onani Nasionalisme

Persoalan benar-tidaknya hukuman mati untuk pengedar narkoba adalah hal lain. Yang menurut saya lebih menyesakkan adalah ketika nyawa manusia menjadi semacam bahan “onani” untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak bisa diinterfensi negara asing. Nyawa terpidana mati Ryan Sukumaran dan Andrew Chan dari kelompok Bali Nine menjadi tidak lebih seperti gambar porno yang digunakan oleh sebagian dari kita untuk memuaskan hasrat seksual, hanya saja dalam kasus ini “untuk memuaskan hasrat nasionalisme”.

Sikap pemerintahan Australia memang sama sekali tidak membantu. Mereka seperti memantikkan api pada segalon bensin para nasionalist dan kemarahan yang terpendam karena bangsa kita masih terbilang inferior. Protes paling mengerikan yang saya lihat di media adalah ketika sekelompok orang di Solo memberikan peti mati yang ditujukan untuk Australia bagi dua warganya yang akan segera meninggal itu.

peti-mati(suaramerdeka.com)

Sedangkan di sudut ruangan itu, dua orang sedang menyesal karena kelakuannya akan menyebabkan ia mati di nusakambangan…

Saya sendiri merasa yang apa yang dilakukan warga Indonesia adalah bentuk kemarahan atas negara kita yang kurang diperhitungkan di kancah internasional. Kita tentu jengkel ketika pembantu kita disiksa, dibunuh, dan diperkosa. Saya kira apa yang terjadi saat ini tidak lepas dari rasa ingin balas dendam sebagian besar warga Indonesia. Persis seperti kemarahan akan fenomena begal yang menyebabkan aksi main hakim sendiri karena polisi tidak kompeten. Dalam kasus ini, yang tidak kompeten adalah pemerintahan yang menyebabkan Indonesia menjadi negeri pembantu/TKI.

Bagaimanapun juga, Saya Kira ini Menyedihkan
Saya tidak paham kenapa sebagian orang tampak sangat gembira ketika ada seseorang yang dihukum mati. Seorang pengedar narkoba tidak pernah memaksa pemakainya untuk membeli barang itu. Namun demikian, pendapat saya ini mungkin bias karena saya memang tidak memiliki teman atau keluarga yang menjadi korban obat-obatan terlarang.

Hanya saja, menurut saya tidak pantas bagi kita untuk bergembira di tengah kejadian tidak mengenakkan ini. Bila Anda pernah menonton film Avatar, dimana Neytiri terpaksa membunuh kawanan hewan untuk melindungi Jake, maka begitulah pendapat saya. Kalaupun mereka pantas mati, ini tetap merupakan sebuah tragedi yang tidak patut ditertawakan. Sebagai negara yang pernah tahu rasanya punya warga yang dihukum mati di negara lain, kita seharusnya lebih dewasa dalam menghadapi reaksi pemerintah Australia yang wajar bila akan melakukan banyak cara untuk menyelamatkan warganya.

andrew chan ryan sukumaran(http://i.guim.co.uk)

Cantik kan Nggak Kayak Papua? Kata Cita Citata

citadepan1okehttp://us.images.detik.com/content/2014/10/21/1303/citadepan1oke.jpg

Cantik kan nggak kayak Papua? Kata Cita Citata yang berdandan dengan aksesoris khas Papua. Menggelikan sekaligus rasis akut. Yang paling menyedihkan tentu karena dia menggunakan aksesoris Papua, tetapi mengejek kecantikan wanita Papua. Saya jadi ingat komentar beberapa pejabat yang akhir-akhir ini melarang perayaan Valentine karena perayaan tersebut merupakan budaya barat. Lucunya, mereka menyebarkan larangan tersebut lewat saluran informasi yang juga berasal dari barat. Hipokrit. Cherry picking yang jahat karena meng-amoral-kan masyarakat barat dengan seks bebas di hari Valentine saja.

Kembali pada kasus Cita Citata… saya sendiri tidak pernah benar-benar mengharapkan seorang publik figur bisa menjadi teladan yang baik. Jadi saya tidak akan menuliskan statemen klasik bahwa publik figur harus bisa menjadi teladan. Malah, saya kasihan. Saya kira apa yang dilontarkan Cita Citata adalah representasi kebanyakan persepsi orang Indonesia kepada saudaranya di wilayah paling timur. Dia menguak realita yang selama ini hanya kita temui di TV secara tidak langsung. Banyak artis lain yang bisa keceplosan. Sial saja saat Cita yang kelewat “lugu” dengan melontarkannya.

Sekarang lihat saja dunia entertainment kita. Bukan rahasia lagi bila seorang gadis Papua langsung dicap jelek bahkan saat kita hanya melihat kulit tangannya yang hitam legam. Berbagai iklan produk pemutih telah mensugesti orang Indonesia bahwa cantik itu putih dan hitam itu jelek. Terdapat asumsi tak terkatakan bahwa orang Melanesia yang memiliki karakteristik seperti orang negro tidak mungkin bisa terlihat cantik dengan; bibir tebal, kulit hitam, dst.

Yang lebih menyedihkan, orang-orang dengan mindset seperti Cita juga merupakan korban mentalitasnya sendiri yang serupa. Wajah blasteran telah mendominasi TV dan layar lebar sejak saya kenal keduanya. Wajah Cita Citata? Jangan harap bisa bersaing dengan mulus. Karenanya dia seharusnya berkata, “Cantiknya mereka nggak kayak orang Indonesia asli non Melanesia!”

Definisi kecantikan kita begitu stuck di masa penjajahan. Kita berbeda dengan negara seperti Jepang dan Korea yang menjual kecantikan khasnya. Jangankan gadis Papua yang minoritas, seorang gadis Jawa berkulit coklat khas Indonesia saja akan sangat jarang kita temui di sinetron atau film Indonesia. Bisa saja dia terkenal karena mengandalkan bakat lain seperti bernyanyi dangdut. Sayangnya, salah satu gadis tersebut, juga malah ikut-ikutan bermental penjajah dengan mengatakan bahwa gadis Papua itu jelek.

Beauty is in the Eye of the Beholder
Ada yang mengatakan bahwa kecantikan itu sangat tergantung pada masing-masing individu. Dalam kasus Cita ini, saya kira tidak demikian. Kasus ini jelas rasis dan dilatarbelakangi oleh sugesti yang begitu kuat bahwa semakin kita terlihat “barat”, maka semakin cantik pula kita. Thus, kita tidak perlu benar-benar mengadakan survey kecantikan wanita Papua. Cukup mengetahui bahwa mereka hitam, kita bisa menghakimi bahwa mereka jelek. Ini benar-benar jauh dari istilah “beauty is in the eye of the beholder”. Ini rasis.

Saya sendiri jarang bergaul dengan orang Papua. Tetapi, tinggal di Jogja membuat saya sering melihat mereka. Bagi saya, kita tidak bisa menggeneralisasi semua gadis Papua dalam satu kotak “gadis jelek” hanya karena kulit mereka. Tanpa bermaksud dangkal dengan hanya memandang kecantikan dari segi fisik, saya telah menemukan banyak gadis Papua yang jauh lebih cantik daripada saya dan teman-teman saya yang berasal dari Jawa.  Tanpa pandangan rasis, kita akan benar-benar bisa menikmati kecantikan menurut mata kita sendiri.

1000 Siswa Meninggal Saat Dihukum Guru!

Hitung saja ada berapa siswa yang sudah meninggal saat dihukum guru. Pasti jumlahnya ribuan. Eits, tunggu dulu. Hanya karena meninggal saat menjalankan hukuman, bukan berarti hukuman tersebut pencetus utama si murid meninggal. Nah, baru-baru ini kasus yang sedang hangat (mencoreng) dunia pendidikan adalah kasus Lintang, siswi SMP yang meninggal setelah lari dua putaran di lapangan basket. LAPANGAN BASKET!

Tidak ada orang normal yang akan meninggal saat lari dua kali di lapangan basket!

Permasalahannya dimulai saat Lintang dan 14 temannya tidak mengerjakan PR. Lantas, ia dan kawan-kawannya dihukum oleh guru untuk berlari mengitari lapangan basket. Lalu Lintang pingsan, dan pada akhirnya nyawanya sudah tak tertolong. Paginya, atau beberapa hari kemudian muncul headline yang kurang lebih berbunyi “Siswi SMP Meninggal Saat Menjalankan Hukuman Guru”. Bombastis, ya? Saya sendiri berani bertaruh sudah ada seribu hingga jutaan siswa yang meninggal saat dihukum guru di seluruh dunia. Mungkin terdengar bodoh, tetapi meninggal karena terpeleset saat sedang berjalan ke perpustakaan untuk memenuhi hukuman, adalah peluang yang sangat logis. Tahu kan masalahnya apa? Semuanya jadi menyalahkan guru secara membabi buta dan mengungkit-ungkit hukuman lari sebagai physical abuse!

Kalaupun gurunya salah sudah membuat murid meninggal, saya rasa itu dikarenakan ketidakcermatannya melihat kondisi Lintang. Fatal, tetapi hal ini bukan semata-mata kesalahan guru. Kemana orangtua Lintang? Bila benar yang dikatakan pihak puskesmas bahwa ia kurang cairan, maka kesalahan juga patut ditudingkan ke orangtuanya. Bila bukan, maka ini murni kecelakaan.

Lari Keliling Lapangan Basket Bukan Abuse Fisik!

lari(sumber: http://pbs.twimg.com/media/BdbJIpnCUAEHiNR.jpg dengan perubahan)

Pihak-pihak yang tidak setuju sekali dengan “menyentuh” fisik anak, kemudian menghubung-hubungkan kasus ini dengan relevansi hukuman fisik. Menurut pendapat pribadi saya, apapun hukumannya asal tidak memiliki niatan melukai siswa, namun malah membuatnya sadar, maka sah-sah saja dilakukan. Lagipula, apakah lari keliling lapangan basket bisa dikategorikan sebagai hukuman fisik yang setara dengan menendang dan menjewer siswa? Saya sungguh masih bertanya-tanya. Sebab, bila ada yang mengkategorikan lari keliling lapangan bola basket sebagai hukuman fisik yang konotasinya child abuse bersama dengan tamparan dan tendangan, maka dia pastilah orang paling anti dengan pelajaran olahraga.
Bayangkan saat Lintang harus mengikuti pelajaran olahraga dengan lari keliling lapangan bola. Kalau ternyata dia tidak dehidrasi namun mengidap penyakit tersembunyi seperti jantung, maka dia pun akan meninggal meski si guru Bahasa Indonesia tidak menghukumnya.

Zaman SBY Lebih Baik? Jokowi Tidak Ada Apa-apanya Dibanding SBY?

Saya kok merasa aneh ya kalau ada yang mengatakan zaman SBY lebih baik dan Jokowi tidak ada apa-apanya dibanding SBY. Sebab, selain kaskus cicak vs buaya yang terjadi baru-baru ini, Jokowi sudah menunjukkan keunggulannya dibanding SBY dalam beberapa bulan kepemimpinannya.

  • Jokowi berani dan tegas ke asing. Meskipun saya agak kurang setuju dengan hukuman mati pada beberapa tersangka kasus narkoba, tetapi hal ini menunjukkan sisi bahwa Jokowi memang tidak kompromi dengan asing sebagaimana SBY ketika menegakkan hukum yang terkait dengan warga asing.
  • Jokowi tegas kepada ormas-ormas preman berjubah agama seperti FP* dan sebangsanya bahkan SEBELUM DIA MENJADI PRESIDEN. Ini poin plus yang sangat saya kagumi dari Jokowi. Di zaman SBY dulu, ormas-ormas semacam ini sangat bebas dan SBY selalu mengalah pada yang berteriak paling keras. Di zaman Jokowi, dia sudah membuktikan bahwa ormas-ormas yang menyimpang dari konstitusi harus dimusnahkan.
  • Jokowi tidak menimbulkan spekulasi ketika menaikkan harga bbm. Berbeda dengan zaman SBY yang penuh dengan ketidakpastian sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM, Jokowi selalu menghindarkan masyarakat luas dari kebingungan. Yang kita tahu, dia “tiba-tiba” menaik-turunkan BBM. Tentu saja keputusannya menimbulkan gejolak. Tapi gejolak hanya terjadi setelahnya sedang di zaman SBY terjadi sebelum dan sesudahnya.
  • Jokowi berani mengambil keputusan tidak populer. Contohnya yah menaikkan harga bbm dan melakukan moratorium PNS kecuali tenaga pendidikan dan kesehatan.

Adapun semua kebrobokan Jokowi seperti:

  • Bagi-bagi kursi, juga ada di zaman SBY
  •  Cicak vs buaya, juga ada di zaman SBY. Zaman SBY bisa menangani kriminalisasi KPK lebih baik? Lalu kasus Antasari Azhar dikemanakan?

Dengan berbagai hal tersebut, saya kira Jokowi yang baru beberapa bulan menjabat masih unggul dalam beberapa hal dan bahkan sangat unggul dalam menumpas ormas anarkis dibanding zaman SBY yang penuh dengan aksi intoleransi berdarah seperti kasus Cikeusik dan Syiah Sampang.
Zaman SBY lebih baik? Jokowi tidak ada apa-apanya dibanding SBY? Tidak juga.

[Membandingkan Pembunuh dan Pengedar Narkoba] Kasus Hukuman Mati Pengedar Narkoba

Setidaknya di Indonesia, setidaknya dengan pengetahuan saya tentang dunia gelap narkoba… bedanya pembunuh dan pengedar narkoba adalah kelonggaran pilihan yang diberikan. Seorang pengedar narkoba tidak memaksa pengguna narkoba untuk mati. Mencandu iya, mati tidak.
Dan menurut saya, itu kok sama jahatnya dengan membunuh pelan-pelan. Memang si pecandu tidak dipaksa untuk membeli pertama kali, tetapi dengan menyediakan hal itu saja, si pengedar sudah salah. Seperti ketika kita membiarkan seseorang mati dibunuh meski kita punya kuasa untuk mencegahnya…
Sama pula seperti pihak-pihak yang membrain-wash orang-orang untuk melakukan terorisme.

Dan menurut saya, hukumannya tidak pantas mati. Tujuan mereka uang, bukan membunuh.

Seorang Penumpang Air Asia yang Terlambat Naik Pesawat Bersyukur pada Tuhan karena Menyelamatkan Nyawanya; Tuhan Mengutuk Penumpang yang lain… ?

Today I Learned merupakan salah satu sub reddit yang menurut saya sangat manusiawi. Sebagai manusia dengan segala keterbatasannya, pada suatu waktu tertentu kita pasti akan terperanjat, kagum, atau bahkan marah pada hal-hal yang sebelumnya sama sekali tidak kita ketahui.
Hari ini, saya memperoleh seuatu yang baru: sebuah cara pikir yang dilontarkan oleh seorang redittor yang mengomentari rasa syukur seorang penumpang Air Asia. Si penumpang tersebut bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan karena terlambat naik pesawat sehingga dia tidak ikut merasakan tragedy yang dialami penumpang yang tidak terlambat. Pertanyaannya adalah: bila kecelakaan tersebut adalah hal yang buruk, pastilah Tuhan memang mengutuk para penumpang yang terlambat. Tapi, bila kecelakaan tersebut bukan hal yang buruk, maka tak perlu lah si penumpang Air Asia yang selamat tersebut bersyukur pada Tuhan. Bersyukur pada apa? Bukankah kecelakaan itu bukan hal yang buruk yang diberikan Tuhan?

Bila kecelakaan dianggap sebagai cobaan, saya kira demikian pula kesehatan, keselamatan, kekayaan, dll.
Jadi bersyukur karena apa? Keinginan kita terpenuhi? Apakah seorang pembunuh berdarah dingin juga seharusnya bersyukur karena keinginan membunuhnya tercapai?

Apakah kita bersyukur karena berhasil menjalankan nilai-nilai Tuhan? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berhasil menjalankan nilai-nilai Tuhan?

Bila keberhasilan menjalankan nilai-nilai Tuhan dikarenakan usaha kita maka kita harus bangga pada diri kita sendiri.
Bila keberhasilan menjalankan nilai-nilai Tuhan dikarenakan usaha kita yang ditentukan Tuhan keberhasilannya, maka bukankah Tuhan telah mendepak orang yang tidak berhasil?

42233(http://images.dailyexpress.co.uk/img/dynamic/78/590x/secondary/42233.jpg)

Saya berjalan menapaki aspal gelap yang tak terdefinisi
Mencoba mengerti, mengerti lalu mati